Senin, 29 Mei 2017

Hubungan teori sastra, kritik sastra dan sejarah sastra

Teori Sastra
        Teori sastra ialah cabang ilmu sastra yang mempelajari tentang prinsip-prinsip, hukum, kategori, kriteria karya sastra yang membedakannya dengan yang bukan sastra. Secara umum yang dimaksud dengan teori adalah suatu sistem ilmiah atau pengetahuan sistematik yang menerapkan pola pengaturan hubungan antara gejala-gejala yang diamati. Teori berisi konsep/ uraian tentang hukum-hukum umum suatu objek ilmu pengetahuan dari suatu titik pandang tertentu. Suatu teori dapat dideduksi secara logis dan dicek kebenarannya (diverifikasi) atau dibantah kesahihannya pada objek atau gejala-gejala yang diamati tersebut.
 
Kritik Sastra
        Kritik sastra juga bagian dari ilmu sastra. Istilah lain yang digunakan para pengkaji sastra ialah telaah sastra, kajian sastra, analisis sastra, dan penelitian sastra. Untuk membuat suatu kritik yang baik, diperlukan kemampuan mengapresiasi sastra, pengalaman yang banyak dalam menelaah, menganalisis, mengulas karya sastra, penguasaan, dan pengalaman yang cukup dalam kehidupan yang bersifat nonliterer, serta tentunya penguasaan tentang teori sastra.
 
Sejarah Sastra
         Sejarah sastra bagian dari ilmu sastra yang mempelajari perkembangan sastra dari waktu ke waktu. Di dalamnya dipelajari ciri-ciri karya sastra pada masa tertentu, para sastrawan yang mengisi arena sastra, puncak-puncak karya sastra yang menghiasi dunia sastra, serta peristiwa-peristiwa yang terjadi di seputar masalah sastra. Sebagai suatu kegiatan keilmuan sastra, seorang sejarawan sastra harus mendokumentasikan karya sastra berdasarkan ciri, klasifikasi, gaya, gejala-gejala yang ada, pengaruh yang melatarbelakanginya, karakteristik isi dan tematik.

Hubungan Teori Sastra dengan Kritik Sastra dan Sejarah Sastra 
Pada hakikatnya, teori sastra membahas secara rinci aspek-aspek yang terdapat di dalam karya sastra, baik konvensi bahasa yang meliputi makna, gaya, struktur, pilihan kata, maupun konvensi sastra yang meliputi tema, tokoh, penokohan, alur, latar, dan lainnya yang membangun keutuhan sebuah karya sastra. Di sisi lain, kritik sastra merupakan ilmu sastra yang mengkaji, menelaah, mengulas, memberi pertimbangan, serta memberikan penilaian tentang keunggulan dan kelemahan atau kekurangan karya sastra. Sasaran kerja kritikus sastra adalah penulis karya sastra dan sekaligus pembaca karya sastra. Untuk memberikan pertimbangan atas karya sastra kritikus sastra bekerja sesuai dengan konvensi bahasa dan konvensi sastra yang melingkupi karya sastra. Demikian juga terjadi hubungan antara teori sastra dengan sejarah sastra. Sejarah sastra adalah bagian dari ilmu sastra yang mempelajari perkembangan sastra dari waktu ke waktu, periode ke periode sebagai bagian dari pemahaman terhadap budaya bangsa. Perkembangan sejarah sastra suatu bangsa, suatu daerah, suatu kebudayaan, diperoleh dari penelitian karya sastra yang dihasilkan para peneliti sastra yang menunjukkan terjadinya perbedaan-perbedaan atau persamaan-persamaan karya sastra pada periode-periode tertentu. Secara keseluruhan dalam pengkajian karya sastra, antara teori sastra, sejarah sastra dan kritik sastra terjalin keterkaitan.

Hakikat Sastra Anak

      Hakikat Sastra Anak
Sastra mengandung eksplorasi mengenai kebenaran kemanusiaan. Sastra juga menawarkan berbagai bentuk kisah yang merangsang pembaca untuk berbuat sesuatu. Apalagi pembacanya adalah anak-anak yang fantasinya baru berkembang dan menerima segala macam cerita terlepas dari cerita itu masuk akal atau tidak. Sebagai karya sastra tentulah berusaha menyampaikan nilai-nilai kemanusiaan, mempertahankan, serta menyebarluaskannya termasuk kepada anak-anak.
Sesuai dengan sasaran pembacanya, sastra anak dituntut untuk dikemas dalam bentuk yang berbeda dari sastra orang dewasa hingga dapat diterima anak dan dipahami mereka dengan baik. Sastra anak merupakan pembayangan atau pelukisan kehidupan anak yang imajinatif ke dalam bentuk struktur bahasa anak. Sastra anak merupakan sastra yang ditujukan untuk anak, bukan sastra tentang anak. Sastra tentang anak bisa saja isinya tidak sesuai untuk anak-anak, tetapi sastra untuk anak sudah tentu sengaja dan disesuaikan untuk anak-anak selaku pembacanya. (Puryanto, 2008: 2)
Sastra anak adalah karya sastra yang secara khusus dapat dipahami oleh anak-anak dan berisi tentang dunia yang akrab dengan anak-anak, yaitu anak yang berusia antara 6-13 tahun. Seperti pada jenis karya sastra umumnya, sastra anak juga berfungsi sebagai media pendidikan dan hiburan, membentuk kepribadian anak, serta menuntun kecerdasan emosi anak. Pendidikan dalam sastra anak memuat amanat tentang moral, pembentukan kepribadian anak, mengembangkan imajinasi dan kreativitas, serta memberi pengetahuan keterampilan praktis bagi anak. Fungsi hiburan dalam sastra anak dapat membuat anak merasa bahagia atau senang membaca, senang dan gembira mendengarkan cerita ketika dibacakan atau dideklamasikan, dan mendapatkan kenikmatan atau kepuasan batin sehingga menuntun kecerdasan emosinya. (Wahidin, 2009)
Menurut Hunt (dalam Witakania, 2008: 8) mendefinisikan sastra anak sebagai buku bacaan yang dibaca oleh, yang secara khusus cocok untuk, dan yang secara khusus pula memuaskan sekelompok anggota yang kini disebut anak. Jadi sastra anak adalah buku bacaan yang sengaja ditulis untuk dibaca anak-anak. Isi buku tersebut harus sesuai dengan minat dan dunia anak-anak, sesuai dengan tingkat perkembangan emosional dan intelektual anak, sehingga dapat memuaskan mereka.
Tarigan (1995: 5) mengakatakan bahwa buku anak-anak adalah buku yang menempatkan mata anak-anak sebagai pengamat utama, mata anak-anak sebagai fokusnya. Sastra anak adalah sastra yang mencerminkan perasaan dan pengalaman anak-anak masa kini, yang dapat dilihat dan dipahami melalui mata anak-anak.
Sifat sastra anak adalah imajinasi semata, bukan berdasarkan pada fakta. Unsur imajinasi ini sangat menonjol dalam sastra anak. Hakikat sastra anak harus sesuai dengan dunia dan alam kehidupan anak-anak yang khas milik mereka dan bukan milik orang dewasa. Sastra anak bertumpu dan bermula pada penyajian nilai dan imbauan tertentu yang dianggap sebagai pedoman tingkah laku dalam kehidupan. (Wahidin, 2009)
Perkembangan anak akan berjalan wajar dan sesuai dengan periodenya bila disugui bahan bacaan yang sesuai pula. Sastra yang akan dikonsumsikan bagi anak harus mengandung tema yang mendidik, alurnya lurus dan tidak berbelit-belit, menggunakan setting yang ada di sekitar mereka atau ada di dunia mereka, tokoh dan penokohan mengandung peneladanan yang baik, gaya bahasanya mudah dipahami tapi mampu mengembangkan bahasa anak, sudut pandang orang yang tepat, dan imajinasi masih dalam jangkauan anak. (Puryanto, 2008: 2)
Sarumpaet (dalam Puryanto, 2008: 3) mengatakan persoalan-persoalan yang menyangkut masalah seks, cinta yang erotis, kebencian, kekerasan dan prasangka, serta masalah hidup mati tidak didapati sebagai tema dalam bacaan anak. Begitu pula pembicaraan mengenai perceraian, penggunaan obat terlarang, ataupun perkosaan merupakan hal yang dihindari dalam bacaan anak. Artinya, tema-tema yang disebut tidaklah perlu dikonsumsi oleh anak. Akan tetapi, seiring dengan berjalannya waktu, tema-tema bacaan anak pun berkembang dan semakin bervariasi. Jenis-jenis bacaan anak misalnya, pada sepuluh tahun yang lalu sangat sedikit atau bahkan tidak ada, sangat mungkin telah hadir sebagai bacaan yang populer tahun-tahun belakangan ini.
Jenis sastra anak meliputi prosa, puisi, dan drama. Jenis prosa dan puisi dalam sastra anak sangat menonjol. Berdasarkan kehadiran tokoh utamanya, sastra anak dapat dibedakan atas tiga hal, yaitu: (1) sastra anak yang mengetengahkan tokoh utama benda mati, (2) sastra anak yang mengetengahkan tokoh utamanya makhluk hidup selain manusia, dan (3) sastra anak yang menghadirkan tokoh utama yang berasal dari manusia itu sendiri. (Wahidin, 2008)
Ditinjau dari sasaran pembacanya, sastra anak dapat dibedakan antara sastra anak untuk sasaran pembaca kelas awal, menengah, dan kelas akhir atau kelas tinggi. Sastra anak secara umum meliputi (1) buku bergambar, (2) cerita rakyat, baik berupa cerita binatang, dongeng, legenda, maupun mite, (3) fiksi sejarah, (4) fiksi realistik, (5) fiksi ilmiah, (6) cerita fantasi, dan (7) biografi. Selain berupa cerita, sastra anak juga berupa puisi yang lebih banyak menggambarkan keindahan paduan bunyi kebahasaan, pilihan kata dan ungkapan, sementara isinya berupa ungkapan perasaan, gagasan, penggambaran obyek ataupun peristiwa yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak. (Saryono dalam Puryanto, 2008: 3)

     Jenis-jenis sastra anak:
1. Realisme adalah Karakteristik    umum    cerita    realisme    adalah    narasi    fiksional    yang menampilkan  tokoh  dengan  karakter  yang  menarik  yang  dikemas  dalam  latar tempat   dan   waktu   yang   dimungkinkan.   Ada   beberapa   cerita   yang   dapat dikategorikan ke dalam realisme, yaitu cerita realistik, realisme binatang, realisme historis dan cerita olahraga (Nurgiyantoro, 2005:15).
2. Fiksi adalah Formula Genre  ini  sengaja  disebut  sebagai  fiksi  formula  yang  karena  memiliki pola-pola tertentu yang membedakannya dengan jenis lain. Jenis sastra anak yang dapat  dikategorikan  ke  dalam  fiksi  formula  adalah  cerita  misteri  dan  detektif, cerita romantis, dan novel serial (Nurgiyantoro,2005:18).
3. Fantasi dapat dipahami sebagai cerita yang menawarkan sesuatu yang sulit diterima.  Cerita  fantasi  dikembangkan  lewat  imajinasi  yang  lazim  dan  dapat diterima sehingga sebagai sebuah cerita dapat diterima oleh pembaca. Jenis sastra anak yang dapat dikelompokkan ke dalam fantasi ini adalah cerita fantasi, fantasi tingkat tinggi, dan fiksi sain(Nurgiyantoro,2005:20).
4. SastraTradisional Istilah  “tradisional”  dalam  kesastraan  (traditional literature atau folk literature)menunjukkan   bahwa   bentuk itu berasal dari cerita yang telah mentradisi,  tidak  diketahui kapan  mulainya  dan  siapa  penciptanya,  dan  kisahkan secara  turun  temurun  secara  lisan.Jenis  cerita  yang  dikelompokkan  ke  dalam genre ini adalah fabel, dongeng rakyat,mitologi, legenda dan epos (Nurgiyantoro,2005: 22).
5. Puisi adalah Sebuah    bentuk    sastra    disebut    puisi    jika    di    dalamnya terdapat pendayagunaan  berbagai unsur  bahasa  untuk  mencapai  efek  keindahan.  Bahasa puisi  tentulah  singkat,  padat,dengan  sedikit  kata,  tetapi  dapat  mendialogkan sesuatuyang  lebih  banyak.  Genre  puisi anak  dapat  berwujud  puisi-puisi  lirik tembang – tembang anak tradisional, lirik tembang-tembang ninabobo,puisi naratif,dan puisi personal (Nurgiyantoro, 2005: 27).
6. Nonfiksi adalah Bacaan  nonfiksi  sastra  ditulis  secara  artistik  sehingga  jika  dibaca  oleh anak,  anak akan  memperoleh  pemahaman  dan  sekaligus  kesenangan.  Ia  akan membangkitkan pada diri anak perasaan keindahan yang berwujud efek emosional dan  intelektual.  Bacaan nonfiksi  dapat  dikelompokkan  ke  dalam  subgenre  buku informasi dan biografi(Nurgiyantoro,2005:28).

     Manfaat sastra yaitu:
1. Sastra menunjukan kebenaran hidup

Sastra dihargai, karena berguna bagi hidup manusia. Sebuah karya sastra tidak dapat digolongkan sebagai karya sastra apabila karya tersebut menuturkan pengalaman uang dapat menyesatkan kehidupan manusia. Dari sastra orang akan belajar banyak mengenai pengalaman hiduo, persoalan, Dan bagaimana menghadapinya.

Kondisi seperti ini dapat dijadikan untuk menanamkan pendidikan kepada anak-anak mengenai hidup yang sesungguhnya. Ada masa tenang, damai, masa anak-anak, dewasa, orangtua dan lainnya dengan aneka peran, tugas, tanggung jawab. Dengan sastra manusia akan mengerti manusia lain.

2. Sastra untuk memperkaya rohani

Melalui sastra pembaca dapat memperoleh hiburan dan kesenangan. Jika hanya mencari kesenangan maka pembaca tersebut bukanlah pembaca yang baik. Dalam membaca sastra kita hendaknya menikmati jalannya cerita, pelukisan watak, mempertimbangkan, mencari kebenaran yang ada didalamnya dan juga ikut aktif mencari makna yang ada. Maka pembaca memperoleh kekayaan rohani yang dapat memperkuat jiwanya. Jiwa akan kuat jika diisi dengan kekayaan rohani yakni salahsatunya diperoleh melalui karya sastra.

3. Sastra melampaui batas bangsa dan zaman

Karya sastra Mahabarata dan Ramayana menceritakan kejadian beberapa ratua tahun yang lalu. Cerita tersebut masih tetap hidup dalam sampai sekarang. Hal ini berarti melampaui batas zaman. Cerita ini digemari manusia karena berisi pengalaman hidup yang mendasar yang masih terjadi sampai saat ini, seperti kesetiaan dan penghianatan, perang saudara, orang tua yang tidak mengakui anak dan lain sebagainnya.

4. Dengan sastra dapat memiliki santun berbahasa

Sastra kaya dengan kata-kata yang tersusun secara tepat dan mempesoa. Seseorang dapat belajar tatakrama bahasa dari pengungkapan kata-kata sastrawan. Sebagai seorang pendidik dan terpelajar sudah semestinya mampu berbicara, menulis dengan menggunakan bahasa yang baik dan berterima. Jadi bahasa sastra dapat digunakan sebagai alat untuk menarik hati para pendengar sesuai dengan keperluan.

5. Sastra dapat menjadikan manusia berbudaya

Manusia yang berbudaya adalah manusia yang cepat tanggap terhadap segala hal yang luhur dan indah dalam hidup ini. Dalam karya seni dan budaya terkandung gagasan tentang kebenaran, kebaikan, dan keindahan.

Kebiasaan manusia bergaul dengan kebenaran, keindahan dan kebaikan yang terdapat dalam seni atau sastra, akan memberikan pengaruh pada tingkah laku sehari-hari, yang akan berdampak pada tingkah laku yang sederhana, berbudi luhur dan disiplin.


Ciri Sastra Anak 
Menurut Puryanto (2008: 7) secara garis besar, ciri dan syarat sastra anak adalah:
1.Cerita anak mengandung tema yang mendidik, alurnya lurus dan tidak berbelit-belit, menggunakan setting yang ada di sekitar atau ada di dunia anak, tokoh dan penokohan mengandung peneladanan yang baik, gaya bahasanya mudah dipahami tapi mampu mengembangkan bahasa anak, sudut pandang orang yang tepat, dan imajinasi masih dalam jangkauan anak.
2.Puisi anak mengandung tema yang menyentuh, ritme yang meriangkan anak, tidak terlalu panjang, ada rima dan bunyi yang serasi dan indah, serta isinya bisa menambah wawasan pikiran anak.
     Buku anak-anak biasanya mencerminkan masalah-masalah masa kini. Hal-hal yang dibaca oleh anak-anak dalam koran, yang ditontonnya dilayar televisi dan di bioskop, cenderung pada masalah-masalah masa kini. Bahkan yang dialaminya di rumah pun adalah situasi masa kini.(Tarigan, 1995:5) 

Puisi

ALAM YANG INDAH
 
 
Sungguh indah alam
Ciptaan Tuhan
Hewan, Burung, ikan
Tumbuh-tumbuhan
Bintang dan bulan
Segenap tata surya
Memuji Tuhan
Tuhanku menjaga
Sejagad raya
Burung Margasatwa
Cukup makannya
Ajar aku, Tuhan
Buka mataku
Belajar dari alam Melihatmu
 

Minggu, 07 Mei 2017

Permainan Anak-anak

Sejarah Permainan Cublak-cublak suweng
            Permainan Cublak-cublak suweng, salah satu karya Sunan Giri (1442 M), seorang ulama sekaligus budayawan yang sangat hebat. Dakwahnya tidak memaksa namun justru menjadikan rasa untuk hanyut didalamnya. Metode ini ternyata sangat ampuh untuk menjadikan daya tarik orang-orang jawa awam terhadap Islam. Melalui seni budaya yang berupa gamelan, tembang, ataupun karya sastra lainnya menjadikan Sunan Giri sebagai sosok yang dikagumi hingga kini.

Langkah-langkah Permainan
               Cublak-cublak suweng merupakan permainan yang dimainkan minimal 3 orang, dan akan semakin menarik jika dimainkan oleh 7 hingga 8 orang. Permainan ini dimulai dengan menentukan salah satu dari peserta permainan untuk menjadi Pak Empo, tokoh utama dalam permainan ini. Pak Empo bertugas mencari sebuah kerikil, atau batu kecil (diibaratkan suweng) yang akan disembunyikan peserta lain. Sebelumnya Pak Empo berbaring telungkup di tengah-tengah peserta, kemudian peserta lain menaruh telapak tangannya menghadap ke atas di punggung Pak Empo.

Cara bermain
         Pertama kali dimulai dengan Gambreng, yang kalah menjadi Pak Empo. Dia berbaring telungkup di tengah, anak-anak lain duduk melingkar. Buka telapak tangan menghadap ke atas dan letakkan di punggung Pak Empo. Salah satu anak memegang biji kerikil dan dipindah dari telapak tangan satu ke telapak tangan lainnya diiringi lagu Cublak-Cublek Suweng.
“Cublak cublek suweng. Suwenge ting gelenter. Mambu ketundung gudel. Pak empo lirak-lirik. Sapa ngguyu ndhelikake. Sir-sir pong dele gosong. Sir-sir pong dele gosong.”, dinyanyikan bersama, biasanya dilakukan 2 atau 3 kali.
Sambil bernyanyi, kerikil atau biji dipindahkan dari tangan satu pemain ke tangan pemain berikutmya, setelah kalimat (bait terakhir) “Sir-sir pong dele gosong” serahkan biji atau kerikil ke tangan seorang anak untuk disembunyikan dalam genggaman. Di akhir lagu, semua anak menggenggam kedua tangan masing-masing, pura-pura menyembunyikan kerikil, sambil menggerak-gerakkan tangan. Pak Empo bangun dan menebak di tangan siapa biji atau kerikil disembunyikan. Bila tebakannya benar, anak yang menggenggam biji atau kerikil gantian menjadi Pak Empo. Bila salah, Pak Empo kembali ke posisi semula dan permainan diulang lagi.

Manfaat Permainan Cublak-cublak Suweng
              Anak belajar menyanyi, mencocokkan ritme lagu dengan gerakan tangan, mengenal bahasa Jawa, melatih motorik halus, belajar mengikuti aturan, latihan kerja sama dan belajar menyimpan rahasia.

Dimana Saja Permainan Ini Dimainkan?
              Permainan ini dimainkan diseluruh Indonesia.

Apakah Permainan Ini Bisa Dimainkan Didalam Kelas?
             Permainan ini bisa dimainkan didalam kelas maupun diluar kelas.

Sabtu, 06 Mei 2017

Sintaksis

Frasa Verbal:
Melaporkan Pencucian
Terlelap Tidur
Telah Disatrongi Maling
Hendak Melanjutkan Kerjaannya
Segera Melaporkan Ke Polisi
Telah Menerima Laporan
Segera Ditindaklanjuti
Masih Melakukan Pengejaran
Baru Diketahui
Mengalami Kerugian

Frasa Nominal:
Bengkel Motor
Mesin Motor Honda Tiger
Kunci Spesial Tool

Frasa Adjektiva:
Baru Kali Ini

Frasa Pronominal:
-

Frasa Numeralia:
Sekitar Pukul 01.00
Sekitar Pukul 07.00
Sekitar Pukul 00.30
Pada Pukul 07.00
Sekitar Rp. 14.000.000